Dokter Hewan

Blog Sharing bagi Dokter Hewan Indonesia

Tempat Berkumpul Pecinta Hewan

Kita memiliki kesenangan yang sama :)

Mencari Jawaban

Jawaban dari setiap pertanyaan anda tentang hewan

Cat :3

We all love cat :3

Moo

Cows are cute

Jumat, 06 Maret 2015

Alur Pemotongan Hewan di RPH

Pemotongan hewan di Rumah Potong Hewan antara lain melewati beberapa tahap antara lain Kandang Penampungan (Kandang Istirahat), daerah kotor dan daerah bersih. Adapun yang termasuk daerah kotor yaitu tempat pemingsanan, tempat pemotongan, tempat pengeluaran darah, tempat penyelesaian penyemblihan, ruang jeroan, ruang kepala dan kaki, ruang kulit dan tempat pemeriksaan post mortem. Sedangkan daerah bersih yaitu ruang pendinginan atau pelayuan, ruang pembekuan, ruang pembagian karkas, ruang penimbangan karkas dan ruang pengemasan daging. Adapun alur yang dilewati antara lain :

Kadang Penampungan (Kandang Istirahat)
Kadang penampungan merupakan kandang yang digunakan untuk menampung hewan sebelum dilakukan pemotongan. Kandang penampungan juga biasa disebut kandang istirahat karena menjadi tempat istirahat hewan setelah melakukan perjalanan dari kandang ke rumah potong hewan. Selain itu fungsi kandang penampungan adalah tempat pemeriksaan ante mortem (pemeriksaan sebelum disembelih). Pemeriksaan ini dilakukan dengan melihat kondisi fisik hewan berupa suhu tubuh, pulsus, pernafasan dan kelaianan yang tampak dari luar tubuh. Jika hewan mengalami kelaianan dan dibutuhkan pengobatan sebelum dipotong maka hewan dimasukkan ke dalam kandang isolasi sampai masa pengobatan berakhir. Pengecekan ante mortem harus dilakukan oleh dokter hewan yang diberi tugas khusus oleh pemerintah setempat.

Daerah Kotor
Daerah kotor merupakan daerah atau ruangan di rumah potong hewan yang memiliki tingkat kontaminasi yang tinggi. Daerah Kotor di rumah potong hewan Malang seluruhnya menyatu kecuali ruang jeroan. Hal ini sudah baik mengingat RPH Malang sudah menggunakan alat – alat yang memenuhi syarat sehingga kontaminasi antara ruangan dapat dihindarkan/dikurangi.

1) Ruang Pemingsanan
Ruang pemingsanan di RPH Malang dilengkapi kandang jepit dan tirai. Pemingsanan dilakukan dengan senjata seperti pistol dengan bubuk mesiu. Akan tetapi pada saat dilakukan Ko. Asistensi tidak ditemukan adanya kegiatan di ruang pemingsanan karena hanya dikhususkan untuk sapi import. Sedangkan untuk sapi lokal dilakukan dengan cara konvensional yaitu dengan merobohkan sapi dan diikat menggunakan tali. Hal ini sedikit bertentangan dengan kesejahteraan hewan karena hewan sedikit atau banyak akan mengalami stress dan membuat pengeluaran darah tidak sempurna.

2) Ruang Pemotongan (Penyemblihan) dan Pengeluaran Darah
Ruang pemotongan hewan (penyemblihan) dan pengeluaran darah di RPH Malang menyatu dengan ruangan fiksasi atau pengikatan. Hal ini masih termasuk kategori baik karena sebagian besar pemotongan hewan dilakukan dengan metode konvensional. Selain itu RPH Malang sangat memperhatikan cara penyemblihan berdasarkan syariah yaitu posisi hewan yang akan disemblih dan pisau yang digunakan serta operator penyemblihan harus beragama islam dan minimal melakukan kewajiban dengan benar.

3) Ruang Penyelesaian Penyemblihan
Menurut SNI 01-6159-1999 ruang penyelesaian penyemblihan yaitu ruangan yang digunakan menjadi tempat pemisahan kepala, keempat kaki sampai tarsusu dan karpus, pengulitan, pengeluaran isi dada dan isi perut. RPH Malang melakukan kegiatan ini di daerah kotor (satu lokasi).

4) Ruang Jeroan
Setelah isi perut dan isi dada dikeluarkan kemudian di bawa ke ruangan jeroan. Ruang jeroan dilengkapi beberapa bak air yang digunakan untuk mencuci jeroan. Tata cara yang dilakukan di RPH Malang yaitu membuka jeroan dan mengeluarkan isi usus, rumen, retikulum, omasum dan abomasum, kemudian di bilas menggunakan air yang mengalir. Jeroan rongga dada dimasukkan ke dalam air dan dicuci secukupnya menggunakan air di dalam tong – tong air yang sudah tersedia.

5) Ruang Kepada dan Kaki
Ruang kepala dan kaki di RPH Malang tidak terlalu dibedakan dengan daerah kotor lainnya. Hal ini disebabkan daerah Kotor RPH Malang luas sehingga dapat dibagi ke dalam beberapa zona tertentu.

6) Ruang Kulit
Ruang kulit di RPH Malang tidak dibedakan dengan daerah kotor lainnya. Setelah hewan dikuliti kemudian kulit diikat sampai kecil kemudian langsung di bawa oleh pembeli kulit, selain itu RPH juga melakukan pengolahan kulit yang dilakukan di ruang pengolahan kulit yang sudah terpisah dari ruangan pemotongan.

7) Ruang Pemeriksaan Post Mortem
Ruang pemeriksaan post mortem di RPH Malang masih menyatu dengan daerah kotor. Pemeriksaan dilakukan saat rongga dada dan rongga abdomen sudah dipisahkan dengan karkas. Pemeriksaan dilakukan dengan menyayat limfo glandula di setiap bagian. Kemudian jika tidak ada kelaianan akan diberikan stempel baik oleh petugas pemeriksaan yang diawasi oleh dokter hewan. Sedangkan bagian jeroan dilakukan di ruang jeroan.

c. Daerah Bersih
Daerah bersih adalah ruangan dengan tingkat pencemaran yang rendah. RPH Malang memiliki dua buah ruangan yang dijadikan daerah bersih antara lain ruang pendinginan (pelayuan), pembekuan, dan ruangan pembagian karkas, penimbangan dan pengemasan dilakukan di ruangan berikutnya. Akan tetapi beberapa fasilitas tidak dimanfaatkan dengan baik oleh RPH Malang, antara lain ruang pelayuan, alat pemotongan karkas yang modern dan alat pembekuan yang terletak di ruangan bersih. Hal ini sangat disayangkan karena teknologi ini dapat meminimalisir kontaminasi pada daging.

1) Ruang Pendinginan/Pelayuan
Ruang pelayuan di RPH Malang sangat jarang digunakan. Hal ini disebabkan keterbatasan waktu karena pemilik hewan sudah harus menjual daging di pasar pada pagi harinya. Sehingga pelayuan dapat dilakukan di tempat penjualan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan SNI tentang aturan RPH. Karena pelayuan sangat penting dilakukan untuk mengurangi proses pembusukan.

2) Ruang Pembekuan
Ruang pembekuan terdapat di sebelah ruangan pelayuan di RPH Malang. Di dalam satu ruangan juga terdapat alat pemotongan untuk pembagian karkas dan pengemasan karkas. Akan tetapi di RPH Malang tidak pernah digunakan. Hal ini sangat disayangkan karena menggunakan alat – alat modern kontaminasi dapat dikurangi dan diminimalisir dibandingkan menggunakan metode konvensional.

3) Ruang Pembagian Karkas
Ruang pembagian karkas di RPH Malang sudah terpisah dengan ruangan pelayuan. Pembagian karkas dilakukan oleh petugas yang bergerak dari daerah kotor ke daerah bersih. Hal ini sangat disayangkan karena kontaminasi dapat diperparah oleh petugas penyemblihan dan pemotongan. Sehingga hal ini harus diperbaiki oleh RPH Malang dimana petugas antara ruangan bersih dan kotor harus dibedakan untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi antara dua daerah.

4) Ruang Penimbangan Karkas
Penimbangan karkas di RPH Malang menggunakna timbangan konsevsional dan diangkat dengan cara digendong oleh petugas yang berlumuran darah. Hal ini sangat tidak baik terutama petugas yang menggendong karkas mengenakan pakaian yang sama setiap malamnya, sehingga kontaminasi karkas sudah sangat tinggi dari petugas pemotongan.

5) Ruang Pengemasan Daging
Ruang pemengasan daging tidak digunakan oleh RPH Malang, namun daging langsung dimasukkn ke dalam mobil dengan wadah seadanya, menggunakan plastik terpal yang diatur sedemikian rupa, tanpa pendinginan maupun es. Hal ini dapat meningkatkan terjadinya kontaminasi dari transportasi. Sehingga harus dibenahi dengan memberikan aturan khusus.

Alur pemotongan hewan di RPH Malang sudah baik namun masih ada beberapa hal yang harus diperhatikan terutama kontaminasi yang disebabkan oleh petugas penyemblihan sampai pemotongan. Dari segi peralatan RPH Malang sudah sangat baik namun belum didukung oleh kesadaran SDM yang baik sehingga harus dilakukan penyuluhan tentang kontaminasi terhadap petugas RPH. Selain itu, fasilitas yang tersedia sebaiknya dipakai agar menjadi RPH terbaharukan dan menjadi percontohan di RPH lain se Indonesia, karena menggunakan peralatan modern selain lebih cepat juga mudah dalam mengendalikan jumlah kontaminasi dibandingkan metode konvensional.
Sumber : SNI 01-6159-1999 tentang Rumah Pemotongan Hewan

Rabu, 29 Oktober 2014

Motivasi : Kisah Hewan yang Ditinggal Mati Pemilik

Woody
Kematian adalah cara yang paling menyakitkan untuk berpisah. Setelah kematian menyapa, tidak ada yang bisa mempertemukan kembali selain kenangan bersama orang yang disayangi. Perpisahan yang menyakitkan itu tidak hanya dirasakan oleh manusia, namun juga hewan kesayangan. Selayaknya kisah anjing Hachiko dari Jepang. Video dari Hope for Paws ini menceritakan seekor anjing bernama Woody yang ditinggal mati oleh pemiliknya. Keluarga pemiliknya terpaksa menjual rumah pemilik Woody, namun Woody tidak mau diajak pindah karena masih menunggu tuannya yang paling dia sayangi.

Bagaimana kisahnya?
Langsung saja kita saksikan kisah berikut ini :


Hikmah yang kita ambil dari pelajaran ini, hewan juga memiliki perasaan. Perasaan yang sama yang bisa kita rasakan. Senang, sedih, sepi dan rapuh bisa juga mereka rasakan. Jadi, sayangilah hewan yang ada disekitar kita :')

Kunjungi juga : Hope for Paws

Kamis, 26 Juni 2014

Terapi Cairan

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
     Kekurangan cairan tubuh pada hewan dapat berakibat fatal. Itulah sebabnya, dalam beberapa kasus dehidrasi untuk menyelamatkan hewan terkadang dibutuhkan pemberian infus. Namun, keberhasilannya sangat tergantung kondisi pasien ketika datang ke dokter hewan. Oleh sebab itu, kunci pertama penanganan dehidrasi adalah kewaspadaan pemilik hewan terhadap tanda-tanda dehidrasi pada hewan kesayangan mereka.Dehidrasi secara harfiah didefinisikan sebagai kondisi turunnya volume cairan di dalam tubuh.
Hewan masih dapat hidup dalam beberapa minggu tanpa makan, tetapi akan mati hanya dalam beberapa hari atau beberapa jam jika tidak ada air. Air berfungsi sebagai pelarut zat-zat makanan dalam tubuh. Air dan elektrolit tidak dapat dipisahkan dari komponen diet, karena keseimbangan air sangat diperlukan dalam metabolisme dan melarutkan hasil metabolisme untuk dapat dimanfaatkan oleh sel tubuh. Tujuan utama dari terapi cairan untuk mengatasi dehidrasi, memulihkan volume sirkulasi darah pada keadaan hipovolemia atau shock, mengembalikan dan
mempertahankan elektrolit (Na+ dan K+), dan asam basa dalam tubuh ke arah batas normal.
    Total cairan tubuh hewan adalah sekitar 60% dari seluruh volume tubuhnya, yang terdiri atas 40% cairan intrasel, dan 20% cairan ekstrasel yang tersusun atas 15% cairan interstisiil dan 5 % cairan plasma. Namun dalam beberapa kasus, dapat terjadi hilangnya cairan dari dalam tubuh yang dapat mengancam keselamatan hewan apabila tidak segera dikoreksi melalui terapi cairan.
Jumlah cairan tubuh diperkirakan dua pertiga dari berat badan hewan dan bervariasi pada setiap hewan tergantung atas kandungan lemak dan umur hewan. Pada neonatal volume persentase total
kandungan air tubuh lebih tinggi dari dewasa. Berdasarkan lokasi dalam tubuh, cairan terbagi menjadi cairan intraselular yang terdapat di dalam sel dengan volume 2/3 dari volume total air tubuh dan cairan ekstraselular yang terdapat diluar sel dengan volume 1/3 dari volume total air tubuh. Fraksi ekstraselular terdiri atas cairan intravaskular (plasma) yang jumlahnya ¼ dari volume total ekstraseluler dan cairan interstitial dengan jumlah ¾ dari volume total cairan ekstraselular.

1.2 Tujuan
            1. Pengertian tentang terapi cairan.
            2. Larutan untuk terapi
            3. Rute terpi cairan
           4.Kasus – kasus yang terjadi dengan terapi ciran


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Terapi Cairan
     Terapi cairan merupakan tindakanpengobatan esensial untuk pasien dalam kondisi kritis atau memerlukan perawatan intensif. Terapi cairan harus menjadipilihan dan mendapat perhatian yangserius terutama pada pasien anjing dan kucing yang telah lama tidak mau makan dan minum. Volume cairan yang bersirkulasi secara efektif dalam tubuh adalah cairan yangterdapat dalam intravaskular (buluhdarah). Volume cairan yang bersirkulasi
dipengaruhi konsentrasi elektrolit,protein plasma, dan partikel lain yang berperan aktif dalam proses osmosis.

 2.2 Larutan untuk Terapi
Ada dua tipe utama cairan yang dapat digunakan dalam terapi, yaitu kristaloid dan koloid. Cairan kristaloid adalah larutan berbahan dasar air dengan molekul kecil sehingga membran kapiler permeabel terhadap cairan tersebut. Cairan kristaloid dapat mengganti dan mempertahankan volume cairan ekstraselular. Oleh karena 75-80% cairan kristaloid yang diberikan secara IV menuju ruang ekstravaskular dalam satu jam pada hewan normal, maka cairan kristaloid sangat diperlukan untuk rehidrasi interstisial.Konsentrasi natrium dan glukosa pada kristaloid menentukan osmolalitas dan tonisitas larutan. Pada kebanyakan situasi kritis, cairan kristaloid isotonis pengganti elektrolit yang seimbang, seperti cairan Ringer laktat, digunakan untuk mengganti elektrolit dan bufer pada konsentrasi khas cairan ekstraselular. Garam normal (cairan natrium klorida 0,9%) juga merupakan cairan pengganti
yang isotonis tetapi tidak seimbang dalam hal elektrolit dan bufer.
Cairan kristaloid dalam volume besar yang diberikan dengan cepat secara IV menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik intravaskular dan penurunan COP dengan cepat. Hal tersebut mengakibatkan ekstravasasi ke interstisial.
Cairan koloid adalah larutan kristaloid yang mengandung molekul besar sehingga membran kapiler tidak permeabel terhadap cairan tersebut. Larutan koloid merupakan pengganti cairan intravaskular. Darah total, plasma, dan albumin pekat mengandung koloid alami dalam bentuk protein, terutama albumin. Dextran dan hydroxyethyl starches (HES) adalah koloid sintetis yang dalam penggunaannya dapat digabung dengan darah total atau plasma, tetapi tidak dianggap sebagai pengganti produk darah ketika albumin, sel darah merah, antitrombin, atau protein koagulasi dibutuhkan. Pemulihan dehidrasi dengan menggunakan kombinasi koloid dan kristaloid membutuhkan volume yang lebih sedikit, dan waktu pemulihan dicapai lebih cepat. Apabila ditambah koloid, jumlah infus kristaloid dapat berkurang 40-60% dibandingkan menggunakan kristaloid saja. Kombinasi kristaloid, koloid sintetis, dan koloid alami sering diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasien.

http://3.bp.blogspot.com/-cnts1uvEExY/TtW2vlAgGdI/AAAAAAAAAAY/Jx7I3UhDlNQ/s320/Potongan+kapiler.jpg

Gambar 1 : Potongan melintang kapiler. Molekul koloid terlalu besar untuk
   melewati membran sehingga tetap di dalam kapiler (Ettinger dan Feldman, 2005)

Pilihan cairan didasarkan pada abnormalitas yang membutuhkah perbaikan. Secara umum, cairan poliionik dan isotonik, misalnya Ringer laktat merupakan cairan yang paling serba guna karena komposisinya mirip dengan cairan ekstraselular. Cairan Ringer laktat adalah cairan alkalizer karena mengandung laktat yang merupakan prekursor bikarbonat. Cairan Ringer meningkatkan jumlah klorida sehingga merupakan cairan acidifier. Cairan Ringer laktat dan Ringer mengandung hanya sedikit kalium. Dibutuhkan penambahan kalium klorida pada cairan tersebut apabila digunakan pada pasien yang banyak kehilangan kalium dari tubuhnya (hipokalemia).
Larutan natrium klorida isotonik (0,9%) atau garam, sering disebut (salah kaprah) cairan fisiologis atau garam normal. Garam isotonik mengandung 154 mEq natrium dan 154 mEq klorida. Konsentrasi natriumnya mendekati cairan ekstraselular, tetapi konsentrasi kloridanya lebih tinggi. Peningkatan kandungan klorida dapat menyebabkan asidosis metabolik hiperkloremia. Garam isotonis tidak mengandung elektrolit yang lain. Karena alasan tersebut, penggunaan garam 0,9% harus dibatasi pada pasien yang mengalami kehilangan banyak natrium, misalnya insufisiensi adrenokortikal, yang juga dikenal sebagai penyakit Addison. Garam 0,45% kadang-kadang digunakan untuk pasien yang mengalami dehidrasi hipernatremia.
Cairan kalium klorida tersedia untuk ditambahkan pada cairan Ringer laktat dan Ringer. Untuk asidosis metabolik yang parah, natrium bikarbonat hipertonik dapat ditambahkan ke dalam dekstrosa 5% atau garam 0,45%. Natrium bikarbonat seharusnya tidak ditambahkan ke dalam cairan yang mengandung kalsium, misalnya Ringer laktat, sebab akan menyebabkan presipitasi kalsium. Penambahan garam 0,9% dengan natrium bikarbonat juga tidak disarankan, karena cairan yang dihasilkan akan mengandung natrium dengan konsentrasi yang sangat tinggi.
Larutan glukosa 5% terutama digunakan untuk mensuplai air untuk mengurangi dehidrasi yang diakibatkan oleh kehilangan air yang mendekati murni (dehidrasi hipernatremia), misalnya terjadi pada panting yang kuat akibat hipertermia. Air murni tidak dapat diberikan secara parenteral karena bersifat sangat hipotonik dan akan menyebabkan eritrosit mengembang dan hemolisis. Oleh karena dekstrosa 5% tidak mengandung elektrolit, maka tidak disarankan penggunaannya pada pasien yang mengalami gangguan yang ditandai kehilangan banyak elektrolit.
http://4.bp.blogspot.com/-SYkIRg7vgLw/TtW3ZZME21I/AAAAAAAAAAg/g8PXWaKdnBk/s320/Larutan+untuk+terapi+cairan+dan+elektrolit+pada+anjing+dan+kucing.jpg
Larutan untuk terapi cairan dan elektrolit pada anjing dan kucing
(Lorenz, et al., 1997)

Cairan glukosa pada konsentrasi 10%, 20%, dan bahkan 50% dapat diberikan secara IV jika diberikan secara pelan-pelan agar bercampur dan larut, terutama digunakan untuk mensuplai kalori dan untuk menimbulkan dieresis osmotik pada hewan yang mengalami insufisiensi ginjal. Cairan glukosa hanya diberikan secara IV.

2.3 Rute Terapi Cairan
Rute terapi cairan yang paling bermanfaat adalah melalui oral (PO), intravena (IV), dan subkutan (SC). Rute intraoseus kadang-kadang digunakan untuk terapi cairan atau darah pada anak anjing dan anak kucing atau pasien dewasa yang tidak dapat dilakukan melalui vena. Pada pasien yang masih mau minum dan tidak disertai muntah, rute oral merupakan pilihan yang baik untuk menangani dehidrasi ringan. Dalam jumlah yang terbatas, cairan yang berbeda dengan cairan ekstraselular dapat diberikan secara oral.
Pada pemberian cairan secara IV, volume cairan ektraselular akan pulih dengan cepat dan distribusi cairan ke seluruh tubuh juga cepat. Rute IV dipilih pada dehidrasi sedang sampai parah atau apabila cairan hilang dari tubuh pasien dengan cepat. Kelemahan rute IV adalah: efek sampingnya lebih besar (flebitis, bekterimia/septisemia, overhidrasi), membutuhkan waktu dan bantuan untuk merestrin pasien selama terapi cairan dilakukan. Rute SC sangat praktis pada anjing dan kucing, terutama untuk terapi pemeliharaan cairan dalam waktu singkat. Cairan dapat diberikan dengan cepat, tetapi absorpsi dan distribusi cairan di dalam tubuh jauh lebih lambat dibandingkan dengan pemberian cairan dengan IV. Absorpsi cairan nyata lebih lama pada hewan yang mengalami hipotensi, sehingga disarankan pada tahap awal terapi cairan dilakukan secara IV untuk rehidrasi pasien dan memperbaiki sirkulasi pada jaringan subkutan. Hanya cairan isotonik dan yang tidak mengiritasi yang diberikan secara SC. Cairan dekstrosa 5% walaupun isotonis tidak disarankan secara SC untuk hewan yang mengalami dehidrasi parah, karena elektrolit pada cairan ekstraselular akan berdifusi ke daerah subkutan yang bebas elektrolit, bergabung dengan cairan dekstrosa 5% diikuti oleh air ekstraselular. Volume cairan ekstraselular secara temporer akan menurun sampai terjadi keseimbangan antara cairan dekstrosa 5% dan cairan ekstraselular.
Dengan kombinasi IV dan SC (kehilangan cairan pada awalnya diganti dengan cara IV diikuti dengan cara SC untuk mempertahankan kebutuhan cairan), volume ekstraselular dapat dikembalikan dengan cepat, aliran darah ginjal akan membaik, dan menghindari penanganan dengan penetesan cairan secara IV yang lama pada pasien dehidrasi.


2.4 Kasus – Kasus Dengan Terapi Cairan

2. 4.1 Syok (Shock)
     Syok adalah suatu keadaan dimana pasokan darah tidak mencukupi  untuk kebutuhan organ-organ di dalam tubuh. Shock juga didefinisikan sebagai gangguan sirkulasi yang mengakibatkan penurunan kritis perfusi jaringan vital atau menurunnya volume darah yang bersirkulasi secara efektif. Pada hewan yang mengalami syok terjadi penurunan perfusi jaringan, terhambatnya pengiriman oksigen, dan kekacauan metabolisme sel sehingga produksi energi oleh sel tidak memadai. Apabila sel tidak dapat menghasilkan energi secara adekuat, maka sel tidak akan berfungsi dengan baik sehingga pada gilirannya akan menimbulkan disfungsi dan kegagalan berbagai organ, akhirnya dapat menimbulkan kematian.
A.    Tanda Klinik
Tanda klinik syok bervariasi tergantung pada penyebabnya. Secara umum, tanda kliniknya dapat berupa apatis, lemah, membrana mukosa pucat, kualitas pulsus jelek, respirasi cepat, temperatur tubuh rendah, tekanan darah rendah, capillary refill timelambat, takikardia atau bradikardia (kucing), oliguria, dan hemokonsentrasi (kecuali pada hemoragi)

B.     Syok dan Terapi Cairan
adalah 90 ml/kg IV untuk anjing dan 60 ml/kg IV untuk kucing. Seperempat dari jumlah tersebut diberikan selama 5-15 menit pertama dan bersamaan dengan itu dilakukan evaluasi terhadap respon kardiovaskular (kecepatan denyut jantung, warna membrana mukosa, kualitas pulsus, dan CRT). Koloid atau plasma pada dosis 22 ml/kg pada anjing dan 10-15 ml/kg pada kucing digunakan untuk resusitasi syok. Kecepatan dan volume terapi cairan harus dapat ditoleransi oleh individu pasien.
Kecepatan dan jumlah pemberian cairan dimonitor pada tekanan vena sentral dan pengeluaran urin. Apabila perfusi jaringan berkurang karena kehilangan banyak darah, secara ideal harus dilakukan transfuse darah dengan kecepatan tidak melebihi 22 ml/kg secara IV dan kontrol perdarahan harus dilakukan dengan baik. Bila PCV menurun secara akut menjadi di bawah 20%, transfusi padatan sel darah merah (packed red blood cells) atau darah total secara nyata memperbaiki tekanan darah dan penghantaran oksigen ke jaringan.
 
2.4.2 FUS (Feline Urologic Syndrome)
      
Feline Urologic Syndrome (FUS) atau Feline Lower Urinary Tract Disease, or FLUTD adalah suatu kondisi dimana terdapatnya bentukan crystal yang menyumbat saluran urinasi bagian bawah seperti vesica urinaria, bladder sphincter, dan uretra, sehingga kucing mengalami kesulitan urinasi. Kondisi ini sering terjadi pada kucing muda, bisa jantan ataupun betina, namun lebih sering terjadi pada kucing jantan.

A.                PATOGENESIS
Sel hidup (Living cells) memproduksi produk yang harus dibuang seperti nitrogen dan kreatinin, yang  dibuang ke aliran darah lalu dibawa ke ginjal kemudian difiltrasi seperti halnya garam dan mineral. Materi yang telah difilter kemudian dibawa ke vesica urinaria.
Pakan kering, dengan air minum yang kurang, dapat menyebabkan pH urine lebih tinggi atau lebih rendah daripada biasanya. Pada kondisi tersebut, kristal dapat terbentuk, yang kemudian dapat menyumbat urethra, dan menghambat urinasi.  Karena ginjal memompa zat tersebut ke vesica urinaria, maka vesica urinaria akan terisi. Normalnya, kucing urinasi beberapa hari sekali. Vesica urinaria yang bersifat elastic dapat menampung urine dengan volume yang lebih. Setelah 24-36 jam, vesica urinaria akan terisi dengan sempurna. Pada saat itulah, toksin mulai menggangu filtrasi ginjal. Pada saat ginjal berhenti memfilter darah, toksin akan  memenuhi aliran darah.

B.                 GEJALA KLINIS
a.       Depresi
b.      lemah
c.       Muntah
d.      Nafsu makan menurun
e.       Biasanya disertai cystitis, infeksi saluran urinaria bagian bawah, adanya sumbatan (debris dan Kristal membentuk sumbatan di urethra), uremia (akumulasi produk toksik seperti nitrogen dan kreatinin dalam aliran darah)
f.       Hematuria (adanya darah dalam urine)
g.      Polliuria (peningkatan frekuensi urinasi)
h.      Dysuria
i.        Urinasi tidak pada tempatnya (tidak di litter box)
j.        Sering menjilati daerah genital.
k.      Mengeong ketika urinasi, karena terasa sakit.

C.                  TERAPI DAN PENCEGAHAN
     Fluid theraphy (subkutan atau intraena) dapat membantu jika terjadi dehidrasi. Selain itu fuid therapy juga dapat menyebabkan produksi urine lebih cair, membantu eliminasi dari debris radang dan kristal. Cairan infus yang perlu diberikan ialah larutan Ringer Laktat 5% dengan dosis 20 – 40 cc/kgBB/hari. Bilamana anjing banyak muntah (karena sudah terjadi uremia/gagal ginjal), maka cairan yang diberikan ialah Ringer Dextrose 5% .

2.3.3 Gastritis Akut
Gastritis akut adalah inflamasi pada gaster atau lambung yang ditandai dengan vomit kurang dari 7 hari, dan tidak menunjukkan gejala-gejala yang lain. Penyakit ini dapat terjadi pada semua anjing dari segala umur. Hewan muda biasanya mengalami masalah karena mengingesti benda asing.

A. Patogenesis
Gastrik Diet (makan basi, perubahan pakan mendadak, toksin bakterial, alergi, diet lemak tingi pada hewan muda), ingesti benda asing, tanaman, obat (NSAID) aspirin, phenylbutazone, ibuprofen, glukokortikoid, agen infeksius (viral, bakterial), parasit.
Non gastrik Gagal ginjal, penyakit hepar, sepsis, shock, stress, hipoadrenokortisism, penyakit neurologis. Patofisiologi Mukosa lambung mengalami perusakan yang selanjutnya memicu infiltrasi sel-sel radang ke lamina propria dan berpotensi menyebabkan erosi superfisial lambung.

B. Gejala Klinis
Vomit adalah gejala yang utama, biasanya segera pulih dalam 24-48 jam setelah penyebab dihilangkan. Hewan mungkin anoreksia, depresi, kadang disertai rasa
sakit di abdomen. Retching atau vomit mungkin terjadi saat dipalpasi abdomen. Derajat dehidrasi bervariasi. Umumnya pemeriksaan fisik tidak menunjukkan banyak perubahan. Gejala sistemik akan ditemukan bila gastritis merupakan gejala sekunder akibat penyakit lain .

C. Diagnosis
            Bila penderita mengalami vomit akut dan tidak menun jukkan gejala, hanya membutuhkan terapi simptomatis tanpa perlu uji-uji diagnostik. Namun bila  ditemukan indikasi gejala serius, tidak sembuh dalam 2-3 hari, atau semakin parah, diperlukan uji-uji diagnostik. Pada umumnya tidak terjadi perubahan pada pemeriksaan laboratorium. PCV dan totoal protein akan meningkat bila terjadi dehidrasi. Hipokalemia terjadi akibat anoreksia yang lama atau vomit profus
D. Terapi
NPO (nothing per os) jika vomitnya frekuen. Mulai berikan sedikit air minum 12-24 jam setelah vomit berhenti. Jika vomit tidak frekuen dapat diberikan sedikit air minum.
 Lakukan terapi cairan bila diperlukan. Larutan lactated Ringer’s atau normal saline umumnya dapat digunakan sebagai terapi cairan. Pemberian dapat dilakukan secara subkutan. Berikan kalium klorida bila terjadi anoreksia, vomit profus atau hipokalemia.

2.3.4  HEPATITIS MENULAR PADA ANJING (Infectious Canine Hepatitis)
Hepatitis menular pada anjing telah tersebar luas di dunia, dengan gejala beragam dari yang ringan berupa demam dan pembendungan membrane mukosa sampai bentuk parah, depresi, leucopenia yang jelas dan bertambah lamanya waktu beku darah.
A. Etiologi
     Infectious Canine Hepatitis disebabkan oleh virus Canine Adeno Virus-1 (CAV-1). Virus ini termasuk virus DNA, tidak beramplop dan secara antigenic berkerabat dengan CAV-2 penyebab tracheobronchitis menular pada anjing.
B. Gejala Klinis
     Hepatitis menular gejalanya beragam dari demam ringan sampai mematikan. Masa inkubasi 4-9 hari. Gejala berupa demam diatas 40 °C dan berlangsung 1-6 hari, biasanya bersifat bifasik, terjadi takikardia dan leukopenia. Gejala lainnya berupa apatis, anoreksia, kehausan, konjungtivitis, leleran serous dari hidung dan mata, kadang-kadang disertai nyeri lambung, muntah juga dapat terjadi serta ditemukan oedema subkutan daerah kepala, leher dan dada.
Koagulasi intravaskuler (dissiminated) umum terjadi dan merupakan suatu yang penting dalam patogenesa penyakit. Gejala respirasi biasanya tidak tampak pada anjing yang menderita ICH.
Pada anjing yang pulih, biasanya makan dengan baik namun pertumbuhan badan berjalan lambat. Tujuh sampai sepuluh hari setelah gejala akut mulai hilang, sekitar 25 % anjing yang pulih akan mengalami kekeruhan (opasitas) kornea dan bisa hilang secara spontan.
C. Diagnosa
     Diagnosa ditetapkan berdasarkan kejadian perdarahan mendadak dan bertambah lamanya waktu beku darah. Diagnosa dipastikan dengan isolasi virus, immonoflourescens atau ditemukan badan-badan inklusi yang khas di dalam sel-sel hati.
D. Pencegahan dan Pengobatan
     Transfusi darah mungkin diperlukan pada anjing yang menderita parah, disamping tambahan dekstrosa 5 % dalam larutan garam isotonik hendaknya diberikan secara intravena. Pada anjiing yang darahnya mengalami pembekuan akan lambat, pemberian cairan subkutan sangat berbahaya.
2.2.5 Distemper
     Distemper adalah penyakit anjing yang sangat menular yang disebabkan oleh virus yang mirip dengan salah satu yang menyebabkan campak pada orang. Anjing yang terinfeksi melepaskan virus distemper dalam semua cairan tubuh. Menghirup virus adalah sumber utama dari eksposur. Insiden tertinggi penyakit ini terjadi pada anakan usia 6 sampai 12 minggu usia, di mana antibodi jatuh. Setengah anjing-anjing yang terinfeksi virus distemper menunjukkan tanda-tanda ringan penyakit atau tidak ada tanda-tanda sama sekali. Penyakit ini paling parah pada anjing yang kurang gizi dan tak terawat.Virus distemper cenderung untuk menyerang sel-sel otak dan sel-sel yang melapisi permukaan tubuh, termasuk kulit, konjungtiva, selaput lendir saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Penyakit ini terjadi dalam berbagai bentuk. Infeksi sekunder dan komplikasi yang umum, sebagian disebabkan karena efek imunosupresif dari virus.

Tanda-tanda pertama dari distemper muncul enam sampai sembilan hari setelah paparan, dan dalam kasus-kasus ringan tidak diketahui.
  • Tahap pertama demam hingga 39,4 ° sampai 40,5 ° C ,
  • lonjakan demam kedua disertai dengan hilangnya nafsu makan, lesu, dan keluarnya cairan encer dari mata dan hidung.

Gejala-gejala
     ini kadang kadang disalah sangka dengan flu anjing.Dalam beberapa hari, mata dan nasal cairan menjadi tebal, kuning, dan lengket. Anjing mulai mengalami batuk kering. Lepuh Nanah bisa muncul di perut. Muntah dan diare sering terjadi dan dapat menyebabkan dehidrasi parah.
Selama 1- 2 minggu ke depan, anjing tampaknya akan membaik tapi kemudian kambuh lagi.
Hal ini sering bertepatan dengan akhir kursus antibiotik dan pengembangan komplikasi gastrointestinal dan pernapasan akibat invasi bakteri sekunder.Tahap kedua terjadi dua sampai tiga minggu setelah onset penyakit. Banyak anjing mengembangkan tanda-tanda keterlibatan otak (ensefalitis), ditandai dengan serangan singkat slobbering, kepala gemetar, dan gerakan mengunyah rahang (seolah-olah anjing itu permen karet).
  1. Pengobatan:
    Distemper sabikanya dirawat oleh dokter hewan. Antibiotik harus digunakan untuk mencegah infeksi bakteri sekunder meskipun mereka tidak berpengaruh pada virus distemper. Pengobatan suportif termasuk cairan intravena Ringer's lactat untuk mengoreksi dehidrasi,.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
     Terapi cairan merupakan salahsatu cara pengobatan utama pada pasien yang kritis dan memerlukan perawatan intensif. Jenis cairan yang akan diberikan harus dipilih secara hati-hati dengan mempertimbangkan kandungan asam basa, elektrolit, dan tingkat dehidrasi pasien. Total cairan tubuh hewan adalah sekitar 60% dari seluruh volume tubuhnya, yang terdiri atas 40% cairan intrasel, dan 20% cairan ekstrasel yang tersusun atas 15% cairan interstisiil dan 5 % cairan plasma. Namun dalam beberapa kasus, dapat terjadi hilangnya cairan dari dalam tubuh yang dapat mengancam keselamatan hewan apabila tidak segera dikoreksi melalui terapi cairan.


Daftar pustaka


 Lorenz, M. D., L. M. Cornelius, dan D. C. Ferguson. 1997. Small Animal Medical    Therapeutics.   Philadelphia: Lippincott Raven Publisher.
Ettinger, S. J. dan E. C. Feldman. 2005. Textbook of Veterinary Internal Medicine Vol. 1. 6th Ed. St. Louis, Missouri: Elsevier Inc.

            Fox, P. R. 2007. Critical care cardiology. In Proceedings of the World Small Animal Veterinary Association. Sydney, Australia
            Fuentes, V. L. 2007. Cardiovascular emergencies. In Proceedings of the SCIVAC Congress. Rimini, Italy.
Junaidi Anhar (2011), Jangan Remehkan Dehidrasi Pada Hewan Kesayangan.




TUGAS ILMU BEDAH KHUSUS
“TERAPI CAIRAN”

Disusun oleh :
Vincentius Agung             105130101111074
Rizy Ahmada                    105130101111075
Rizky Pamwidya A.          105130101111078
Santi Wulan D.                 105130101111079
Ninoek Candra DRS.        105130101111080

PKH UB Kelas C

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013