INDO LIVESTOCK 2014 – Hadiri INDO LIVESTOCK 2014 di Jakarta

Bagi kalian yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan, hadiri Indo Livestock di Jakarta yang ke-9

Workshhop Urgensi Keamanan Pangan

Peningkatan populasi ternak, produksi daging, susu, dan telur sebagai hasil ternak sangat bergantung pada penyediaan pakan yang baik dan berkualitas.

Pengumuman : Munas IMAKAHI XVI

Musyawarah Nasional IMAKAHI ke XVI akan dilaksanakan pada tanggal 3 - 6 Februari 2014. Lokasi di River Stone Hotel and Cottege di jalan K.H Agus Salim 97 Batu.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 26 Juni 2014

Terapi Cairan

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
     Kekurangan cairan tubuh pada hewan dapat berakibat fatal. Itulah sebabnya, dalam beberapa kasus dehidrasi untuk menyelamatkan hewan terkadang dibutuhkan pemberian infus. Namun, keberhasilannya sangat tergantung kondisi pasien ketika datang ke dokter hewan. Oleh sebab itu, kunci pertama penanganan dehidrasi adalah kewaspadaan pemilik hewan terhadap tanda-tanda dehidrasi pada hewan kesayangan mereka.Dehidrasi secara harfiah didefinisikan sebagai kondisi turunnya volume cairan di dalam tubuh.
Hewan masih dapat hidup dalam beberapa minggu tanpa makan, tetapi akan mati hanya dalam beberapa hari atau beberapa jam jika tidak ada air. Air berfungsi sebagai pelarut zat-zat makanan dalam tubuh. Air dan elektrolit tidak dapat dipisahkan dari komponen diet, karena keseimbangan air sangat diperlukan dalam metabolisme dan melarutkan hasil metabolisme untuk dapat dimanfaatkan oleh sel tubuh. Tujuan utama dari terapi cairan untuk mengatasi dehidrasi, memulihkan volume sirkulasi darah pada keadaan hipovolemia atau shock, mengembalikan dan
mempertahankan elektrolit (Na+ dan K+), dan asam basa dalam tubuh ke arah batas normal.
    Total cairan tubuh hewan adalah sekitar 60% dari seluruh volume tubuhnya, yang terdiri atas 40% cairan intrasel, dan 20% cairan ekstrasel yang tersusun atas 15% cairan interstisiil dan 5 % cairan plasma. Namun dalam beberapa kasus, dapat terjadi hilangnya cairan dari dalam tubuh yang dapat mengancam keselamatan hewan apabila tidak segera dikoreksi melalui terapi cairan.
Jumlah cairan tubuh diperkirakan dua pertiga dari berat badan hewan dan bervariasi pada setiap hewan tergantung atas kandungan lemak dan umur hewan. Pada neonatal volume persentase total
kandungan air tubuh lebih tinggi dari dewasa. Berdasarkan lokasi dalam tubuh, cairan terbagi menjadi cairan intraselular yang terdapat di dalam sel dengan volume 2/3 dari volume total air tubuh dan cairan ekstraselular yang terdapat diluar sel dengan volume 1/3 dari volume total air tubuh. Fraksi ekstraselular terdiri atas cairan intravaskular (plasma) yang jumlahnya ¼ dari volume total ekstraseluler dan cairan interstitial dengan jumlah ¾ dari volume total cairan ekstraselular.

1.2 Tujuan
            1. Pengertian tentang terapi cairan.
            2. Larutan untuk terapi
            3. Rute terpi cairan
           4.Kasus – kasus yang terjadi dengan terapi ciran


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Terapi Cairan
     Terapi cairan merupakan tindakanpengobatan esensial untuk pasien dalam kondisi kritis atau memerlukan perawatan intensif. Terapi cairan harus menjadipilihan dan mendapat perhatian yangserius terutama pada pasien anjing dan kucing yang telah lama tidak mau makan dan minum. Volume cairan yang bersirkulasi secara efektif dalam tubuh adalah cairan yangterdapat dalam intravaskular (buluhdarah). Volume cairan yang bersirkulasi
dipengaruhi konsentrasi elektrolit,protein plasma, dan partikel lain yang berperan aktif dalam proses osmosis.

 2.2 Larutan untuk Terapi
Ada dua tipe utama cairan yang dapat digunakan dalam terapi, yaitu kristaloid dan koloid. Cairan kristaloid adalah larutan berbahan dasar air dengan molekul kecil sehingga membran kapiler permeabel terhadap cairan tersebut. Cairan kristaloid dapat mengganti dan mempertahankan volume cairan ekstraselular. Oleh karena 75-80% cairan kristaloid yang diberikan secara IV menuju ruang ekstravaskular dalam satu jam pada hewan normal, maka cairan kristaloid sangat diperlukan untuk rehidrasi interstisial.Konsentrasi natrium dan glukosa pada kristaloid menentukan osmolalitas dan tonisitas larutan. Pada kebanyakan situasi kritis, cairan kristaloid isotonis pengganti elektrolit yang seimbang, seperti cairan Ringer laktat, digunakan untuk mengganti elektrolit dan bufer pada konsentrasi khas cairan ekstraselular. Garam normal (cairan natrium klorida 0,9%) juga merupakan cairan pengganti
yang isotonis tetapi tidak seimbang dalam hal elektrolit dan bufer.
Cairan kristaloid dalam volume besar yang diberikan dengan cepat secara IV menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik intravaskular dan penurunan COP dengan cepat. Hal tersebut mengakibatkan ekstravasasi ke interstisial.
Cairan koloid adalah larutan kristaloid yang mengandung molekul besar sehingga membran kapiler tidak permeabel terhadap cairan tersebut. Larutan koloid merupakan pengganti cairan intravaskular. Darah total, plasma, dan albumin pekat mengandung koloid alami dalam bentuk protein, terutama albumin. Dextran dan hydroxyethyl starches (HES) adalah koloid sintetis yang dalam penggunaannya dapat digabung dengan darah total atau plasma, tetapi tidak dianggap sebagai pengganti produk darah ketika albumin, sel darah merah, antitrombin, atau protein koagulasi dibutuhkan. Pemulihan dehidrasi dengan menggunakan kombinasi koloid dan kristaloid membutuhkan volume yang lebih sedikit, dan waktu pemulihan dicapai lebih cepat. Apabila ditambah koloid, jumlah infus kristaloid dapat berkurang 40-60% dibandingkan menggunakan kristaloid saja. Kombinasi kristaloid, koloid sintetis, dan koloid alami sering diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasien.

http://3.bp.blogspot.com/-cnts1uvEExY/TtW2vlAgGdI/AAAAAAAAAAY/Jx7I3UhDlNQ/s320/Potongan+kapiler.jpg

Gambar 1 : Potongan melintang kapiler. Molekul koloid terlalu besar untuk
   melewati membran sehingga tetap di dalam kapiler (Ettinger dan Feldman, 2005)

Pilihan cairan didasarkan pada abnormalitas yang membutuhkah perbaikan. Secara umum, cairan poliionik dan isotonik, misalnya Ringer laktat merupakan cairan yang paling serba guna karena komposisinya mirip dengan cairan ekstraselular. Cairan Ringer laktat adalah cairan alkalizer karena mengandung laktat yang merupakan prekursor bikarbonat. Cairan Ringer meningkatkan jumlah klorida sehingga merupakan cairan acidifier. Cairan Ringer laktat dan Ringer mengandung hanya sedikit kalium. Dibutuhkan penambahan kalium klorida pada cairan tersebut apabila digunakan pada pasien yang banyak kehilangan kalium dari tubuhnya (hipokalemia).
Larutan natrium klorida isotonik (0,9%) atau garam, sering disebut (salah kaprah) cairan fisiologis atau garam normal. Garam isotonik mengandung 154 mEq natrium dan 154 mEq klorida. Konsentrasi natriumnya mendekati cairan ekstraselular, tetapi konsentrasi kloridanya lebih tinggi. Peningkatan kandungan klorida dapat menyebabkan asidosis metabolik hiperkloremia. Garam isotonis tidak mengandung elektrolit yang lain. Karena alasan tersebut, penggunaan garam 0,9% harus dibatasi pada pasien yang mengalami kehilangan banyak natrium, misalnya insufisiensi adrenokortikal, yang juga dikenal sebagai penyakit Addison. Garam 0,45% kadang-kadang digunakan untuk pasien yang mengalami dehidrasi hipernatremia.
Cairan kalium klorida tersedia untuk ditambahkan pada cairan Ringer laktat dan Ringer. Untuk asidosis metabolik yang parah, natrium bikarbonat hipertonik dapat ditambahkan ke dalam dekstrosa 5% atau garam 0,45%. Natrium bikarbonat seharusnya tidak ditambahkan ke dalam cairan yang mengandung kalsium, misalnya Ringer laktat, sebab akan menyebabkan presipitasi kalsium. Penambahan garam 0,9% dengan natrium bikarbonat juga tidak disarankan, karena cairan yang dihasilkan akan mengandung natrium dengan konsentrasi yang sangat tinggi.
Larutan glukosa 5% terutama digunakan untuk mensuplai air untuk mengurangi dehidrasi yang diakibatkan oleh kehilangan air yang mendekati murni (dehidrasi hipernatremia), misalnya terjadi pada panting yang kuat akibat hipertermia. Air murni tidak dapat diberikan secara parenteral karena bersifat sangat hipotonik dan akan menyebabkan eritrosit mengembang dan hemolisis. Oleh karena dekstrosa 5% tidak mengandung elektrolit, maka tidak disarankan penggunaannya pada pasien yang mengalami gangguan yang ditandai kehilangan banyak elektrolit.
http://4.bp.blogspot.com/-SYkIRg7vgLw/TtW3ZZME21I/AAAAAAAAAAg/g8PXWaKdnBk/s320/Larutan+untuk+terapi+cairan+dan+elektrolit+pada+anjing+dan+kucing.jpg
Larutan untuk terapi cairan dan elektrolit pada anjing dan kucing
(Lorenz, et al., 1997)

Cairan glukosa pada konsentrasi 10%, 20%, dan bahkan 50% dapat diberikan secara IV jika diberikan secara pelan-pelan agar bercampur dan larut, terutama digunakan untuk mensuplai kalori dan untuk menimbulkan dieresis osmotik pada hewan yang mengalami insufisiensi ginjal. Cairan glukosa hanya diberikan secara IV.

2.3 Rute Terapi Cairan
Rute terapi cairan yang paling bermanfaat adalah melalui oral (PO), intravena (IV), dan subkutan (SC). Rute intraoseus kadang-kadang digunakan untuk terapi cairan atau darah pada anak anjing dan anak kucing atau pasien dewasa yang tidak dapat dilakukan melalui vena. Pada pasien yang masih mau minum dan tidak disertai muntah, rute oral merupakan pilihan yang baik untuk menangani dehidrasi ringan. Dalam jumlah yang terbatas, cairan yang berbeda dengan cairan ekstraselular dapat diberikan secara oral.
Pada pemberian cairan secara IV, volume cairan ektraselular akan pulih dengan cepat dan distribusi cairan ke seluruh tubuh juga cepat. Rute IV dipilih pada dehidrasi sedang sampai parah atau apabila cairan hilang dari tubuh pasien dengan cepat. Kelemahan rute IV adalah: efek sampingnya lebih besar (flebitis, bekterimia/septisemia, overhidrasi), membutuhkan waktu dan bantuan untuk merestrin pasien selama terapi cairan dilakukan. Rute SC sangat praktis pada anjing dan kucing, terutama untuk terapi pemeliharaan cairan dalam waktu singkat. Cairan dapat diberikan dengan cepat, tetapi absorpsi dan distribusi cairan di dalam tubuh jauh lebih lambat dibandingkan dengan pemberian cairan dengan IV. Absorpsi cairan nyata lebih lama pada hewan yang mengalami hipotensi, sehingga disarankan pada tahap awal terapi cairan dilakukan secara IV untuk rehidrasi pasien dan memperbaiki sirkulasi pada jaringan subkutan. Hanya cairan isotonik dan yang tidak mengiritasi yang diberikan secara SC. Cairan dekstrosa 5% walaupun isotonis tidak disarankan secara SC untuk hewan yang mengalami dehidrasi parah, karena elektrolit pada cairan ekstraselular akan berdifusi ke daerah subkutan yang bebas elektrolit, bergabung dengan cairan dekstrosa 5% diikuti oleh air ekstraselular. Volume cairan ekstraselular secara temporer akan menurun sampai terjadi keseimbangan antara cairan dekstrosa 5% dan cairan ekstraselular.
Dengan kombinasi IV dan SC (kehilangan cairan pada awalnya diganti dengan cara IV diikuti dengan cara SC untuk mempertahankan kebutuhan cairan), volume ekstraselular dapat dikembalikan dengan cepat, aliran darah ginjal akan membaik, dan menghindari penanganan dengan penetesan cairan secara IV yang lama pada pasien dehidrasi.


2.4 Kasus – Kasus Dengan Terapi Cairan

2. 4.1 Syok (Shock)
     Syok adalah suatu keadaan dimana pasokan darah tidak mencukupi  untuk kebutuhan organ-organ di dalam tubuh. Shock juga didefinisikan sebagai gangguan sirkulasi yang mengakibatkan penurunan kritis perfusi jaringan vital atau menurunnya volume darah yang bersirkulasi secara efektif. Pada hewan yang mengalami syok terjadi penurunan perfusi jaringan, terhambatnya pengiriman oksigen, dan kekacauan metabolisme sel sehingga produksi energi oleh sel tidak memadai. Apabila sel tidak dapat menghasilkan energi secara adekuat, maka sel tidak akan berfungsi dengan baik sehingga pada gilirannya akan menimbulkan disfungsi dan kegagalan berbagai organ, akhirnya dapat menimbulkan kematian.
A.    Tanda Klinik
Tanda klinik syok bervariasi tergantung pada penyebabnya. Secara umum, tanda kliniknya dapat berupa apatis, lemah, membrana mukosa pucat, kualitas pulsus jelek, respirasi cepat, temperatur tubuh rendah, tekanan darah rendah, capillary refill timelambat, takikardia atau bradikardia (kucing), oliguria, dan hemokonsentrasi (kecuali pada hemoragi)

B.     Syok dan Terapi Cairan
adalah 90 ml/kg IV untuk anjing dan 60 ml/kg IV untuk kucing. Seperempat dari jumlah tersebut diberikan selama 5-15 menit pertama dan bersamaan dengan itu dilakukan evaluasi terhadap respon kardiovaskular (kecepatan denyut jantung, warna membrana mukosa, kualitas pulsus, dan CRT). Koloid atau plasma pada dosis 22 ml/kg pada anjing dan 10-15 ml/kg pada kucing digunakan untuk resusitasi syok. Kecepatan dan volume terapi cairan harus dapat ditoleransi oleh individu pasien.
Kecepatan dan jumlah pemberian cairan dimonitor pada tekanan vena sentral dan pengeluaran urin. Apabila perfusi jaringan berkurang karena kehilangan banyak darah, secara ideal harus dilakukan transfuse darah dengan kecepatan tidak melebihi 22 ml/kg secara IV dan kontrol perdarahan harus dilakukan dengan baik. Bila PCV menurun secara akut menjadi di bawah 20%, transfusi padatan sel darah merah (packed red blood cells) atau darah total secara nyata memperbaiki tekanan darah dan penghantaran oksigen ke jaringan.
 
2.4.2 FUS (Feline Urologic Syndrome)
      
Feline Urologic Syndrome (FUS) atau Feline Lower Urinary Tract Disease, or FLUTD adalah suatu kondisi dimana terdapatnya bentukan crystal yang menyumbat saluran urinasi bagian bawah seperti vesica urinaria, bladder sphincter, dan uretra, sehingga kucing mengalami kesulitan urinasi. Kondisi ini sering terjadi pada kucing muda, bisa jantan ataupun betina, namun lebih sering terjadi pada kucing jantan.

A.                PATOGENESIS
Sel hidup (Living cells) memproduksi produk yang harus dibuang seperti nitrogen dan kreatinin, yang  dibuang ke aliran darah lalu dibawa ke ginjal kemudian difiltrasi seperti halnya garam dan mineral. Materi yang telah difilter kemudian dibawa ke vesica urinaria.
Pakan kering, dengan air minum yang kurang, dapat menyebabkan pH urine lebih tinggi atau lebih rendah daripada biasanya. Pada kondisi tersebut, kristal dapat terbentuk, yang kemudian dapat menyumbat urethra, dan menghambat urinasi.  Karena ginjal memompa zat tersebut ke vesica urinaria, maka vesica urinaria akan terisi. Normalnya, kucing urinasi beberapa hari sekali. Vesica urinaria yang bersifat elastic dapat menampung urine dengan volume yang lebih. Setelah 24-36 jam, vesica urinaria akan terisi dengan sempurna. Pada saat itulah, toksin mulai menggangu filtrasi ginjal. Pada saat ginjal berhenti memfilter darah, toksin akan  memenuhi aliran darah.

B.                 GEJALA KLINIS
a.       Depresi
b.      lemah
c.       Muntah
d.      Nafsu makan menurun
e.       Biasanya disertai cystitis, infeksi saluran urinaria bagian bawah, adanya sumbatan (debris dan Kristal membentuk sumbatan di urethra), uremia (akumulasi produk toksik seperti nitrogen dan kreatinin dalam aliran darah)
f.       Hematuria (adanya darah dalam urine)
g.      Polliuria (peningkatan frekuensi urinasi)
h.      Dysuria
i.        Urinasi tidak pada tempatnya (tidak di litter box)
j.        Sering menjilati daerah genital.
k.      Mengeong ketika urinasi, karena terasa sakit.

C.                  TERAPI DAN PENCEGAHAN
     Fluid theraphy (subkutan atau intraena) dapat membantu jika terjadi dehidrasi. Selain itu fuid therapy juga dapat menyebabkan produksi urine lebih cair, membantu eliminasi dari debris radang dan kristal. Cairan infus yang perlu diberikan ialah larutan Ringer Laktat 5% dengan dosis 20 – 40 cc/kgBB/hari. Bilamana anjing banyak muntah (karena sudah terjadi uremia/gagal ginjal), maka cairan yang diberikan ialah Ringer Dextrose 5% .

2.3.3 Gastritis Akut
Gastritis akut adalah inflamasi pada gaster atau lambung yang ditandai dengan vomit kurang dari 7 hari, dan tidak menunjukkan gejala-gejala yang lain. Penyakit ini dapat terjadi pada semua anjing dari segala umur. Hewan muda biasanya mengalami masalah karena mengingesti benda asing.

A. Patogenesis
Gastrik Diet (makan basi, perubahan pakan mendadak, toksin bakterial, alergi, diet lemak tingi pada hewan muda), ingesti benda asing, tanaman, obat (NSAID) aspirin, phenylbutazone, ibuprofen, glukokortikoid, agen infeksius (viral, bakterial), parasit.
Non gastrik Gagal ginjal, penyakit hepar, sepsis, shock, stress, hipoadrenokortisism, penyakit neurologis. Patofisiologi Mukosa lambung mengalami perusakan yang selanjutnya memicu infiltrasi sel-sel radang ke lamina propria dan berpotensi menyebabkan erosi superfisial lambung.

B. Gejala Klinis
Vomit adalah gejala yang utama, biasanya segera pulih dalam 24-48 jam setelah penyebab dihilangkan. Hewan mungkin anoreksia, depresi, kadang disertai rasa
sakit di abdomen. Retching atau vomit mungkin terjadi saat dipalpasi abdomen. Derajat dehidrasi bervariasi. Umumnya pemeriksaan fisik tidak menunjukkan banyak perubahan. Gejala sistemik akan ditemukan bila gastritis merupakan gejala sekunder akibat penyakit lain .

C. Diagnosis
            Bila penderita mengalami vomit akut dan tidak menun jukkan gejala, hanya membutuhkan terapi simptomatis tanpa perlu uji-uji diagnostik. Namun bila  ditemukan indikasi gejala serius, tidak sembuh dalam 2-3 hari, atau semakin parah, diperlukan uji-uji diagnostik. Pada umumnya tidak terjadi perubahan pada pemeriksaan laboratorium. PCV dan totoal protein akan meningkat bila terjadi dehidrasi. Hipokalemia terjadi akibat anoreksia yang lama atau vomit profus
D. Terapi
NPO (nothing per os) jika vomitnya frekuen. Mulai berikan sedikit air minum 12-24 jam setelah vomit berhenti. Jika vomit tidak frekuen dapat diberikan sedikit air minum.
 Lakukan terapi cairan bila diperlukan. Larutan lactated Ringer’s atau normal saline umumnya dapat digunakan sebagai terapi cairan. Pemberian dapat dilakukan secara subkutan. Berikan kalium klorida bila terjadi anoreksia, vomit profus atau hipokalemia.

2.3.4  HEPATITIS MENULAR PADA ANJING (Infectious Canine Hepatitis)
Hepatitis menular pada anjing telah tersebar luas di dunia, dengan gejala beragam dari yang ringan berupa demam dan pembendungan membrane mukosa sampai bentuk parah, depresi, leucopenia yang jelas dan bertambah lamanya waktu beku darah.
A. Etiologi
     Infectious Canine Hepatitis disebabkan oleh virus Canine Adeno Virus-1 (CAV-1). Virus ini termasuk virus DNA, tidak beramplop dan secara antigenic berkerabat dengan CAV-2 penyebab tracheobronchitis menular pada anjing.
B. Gejala Klinis
     Hepatitis menular gejalanya beragam dari demam ringan sampai mematikan. Masa inkubasi 4-9 hari. Gejala berupa demam diatas 40 °C dan berlangsung 1-6 hari, biasanya bersifat bifasik, terjadi takikardia dan leukopenia. Gejala lainnya berupa apatis, anoreksia, kehausan, konjungtivitis, leleran serous dari hidung dan mata, kadang-kadang disertai nyeri lambung, muntah juga dapat terjadi serta ditemukan oedema subkutan daerah kepala, leher dan dada.
Koagulasi intravaskuler (dissiminated) umum terjadi dan merupakan suatu yang penting dalam patogenesa penyakit. Gejala respirasi biasanya tidak tampak pada anjing yang menderita ICH.
Pada anjing yang pulih, biasanya makan dengan baik namun pertumbuhan badan berjalan lambat. Tujuh sampai sepuluh hari setelah gejala akut mulai hilang, sekitar 25 % anjing yang pulih akan mengalami kekeruhan (opasitas) kornea dan bisa hilang secara spontan.
C. Diagnosa
     Diagnosa ditetapkan berdasarkan kejadian perdarahan mendadak dan bertambah lamanya waktu beku darah. Diagnosa dipastikan dengan isolasi virus, immonoflourescens atau ditemukan badan-badan inklusi yang khas di dalam sel-sel hati.
D. Pencegahan dan Pengobatan
     Transfusi darah mungkin diperlukan pada anjing yang menderita parah, disamping tambahan dekstrosa 5 % dalam larutan garam isotonik hendaknya diberikan secara intravena. Pada anjiing yang darahnya mengalami pembekuan akan lambat, pemberian cairan subkutan sangat berbahaya.
2.2.5 Distemper
     Distemper adalah penyakit anjing yang sangat menular yang disebabkan oleh virus yang mirip dengan salah satu yang menyebabkan campak pada orang. Anjing yang terinfeksi melepaskan virus distemper dalam semua cairan tubuh. Menghirup virus adalah sumber utama dari eksposur. Insiden tertinggi penyakit ini terjadi pada anakan usia 6 sampai 12 minggu usia, di mana antibodi jatuh. Setengah anjing-anjing yang terinfeksi virus distemper menunjukkan tanda-tanda ringan penyakit atau tidak ada tanda-tanda sama sekali. Penyakit ini paling parah pada anjing yang kurang gizi dan tak terawat.Virus distemper cenderung untuk menyerang sel-sel otak dan sel-sel yang melapisi permukaan tubuh, termasuk kulit, konjungtiva, selaput lendir saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Penyakit ini terjadi dalam berbagai bentuk. Infeksi sekunder dan komplikasi yang umum, sebagian disebabkan karena efek imunosupresif dari virus.

Tanda-tanda pertama dari distemper muncul enam sampai sembilan hari setelah paparan, dan dalam kasus-kasus ringan tidak diketahui.
  • Tahap pertama demam hingga 39,4 ° sampai 40,5 ° C ,
  • lonjakan demam kedua disertai dengan hilangnya nafsu makan, lesu, dan keluarnya cairan encer dari mata dan hidung.

Gejala-gejala
     ini kadang kadang disalah sangka dengan flu anjing.Dalam beberapa hari, mata dan nasal cairan menjadi tebal, kuning, dan lengket. Anjing mulai mengalami batuk kering. Lepuh Nanah bisa muncul di perut. Muntah dan diare sering terjadi dan dapat menyebabkan dehidrasi parah.
Selama 1- 2 minggu ke depan, anjing tampaknya akan membaik tapi kemudian kambuh lagi.
Hal ini sering bertepatan dengan akhir kursus antibiotik dan pengembangan komplikasi gastrointestinal dan pernapasan akibat invasi bakteri sekunder.Tahap kedua terjadi dua sampai tiga minggu setelah onset penyakit. Banyak anjing mengembangkan tanda-tanda keterlibatan otak (ensefalitis), ditandai dengan serangan singkat slobbering, kepala gemetar, dan gerakan mengunyah rahang (seolah-olah anjing itu permen karet).
  1. Pengobatan:
    Distemper sabikanya dirawat oleh dokter hewan. Antibiotik harus digunakan untuk mencegah infeksi bakteri sekunder meskipun mereka tidak berpengaruh pada virus distemper. Pengobatan suportif termasuk cairan intravena Ringer's lactat untuk mengoreksi dehidrasi,.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
     Terapi cairan merupakan salahsatu cara pengobatan utama pada pasien yang kritis dan memerlukan perawatan intensif. Jenis cairan yang akan diberikan harus dipilih secara hati-hati dengan mempertimbangkan kandungan asam basa, elektrolit, dan tingkat dehidrasi pasien. Total cairan tubuh hewan adalah sekitar 60% dari seluruh volume tubuhnya, yang terdiri atas 40% cairan intrasel, dan 20% cairan ekstrasel yang tersusun atas 15% cairan interstisiil dan 5 % cairan plasma. Namun dalam beberapa kasus, dapat terjadi hilangnya cairan dari dalam tubuh yang dapat mengancam keselamatan hewan apabila tidak segera dikoreksi melalui terapi cairan.


Daftar pustaka


 Lorenz, M. D., L. M. Cornelius, dan D. C. Ferguson. 1997. Small Animal Medical    Therapeutics.   Philadelphia: Lippincott Raven Publisher.
Ettinger, S. J. dan E. C. Feldman. 2005. Textbook of Veterinary Internal Medicine Vol. 1. 6th Ed. St. Louis, Missouri: Elsevier Inc.

            Fox, P. R. 2007. Critical care cardiology. In Proceedings of the World Small Animal Veterinary Association. Sydney, Australia
            Fuentes, V. L. 2007. Cardiovascular emergencies. In Proceedings of the SCIVAC Congress. Rimini, Italy.
Junaidi Anhar (2011), Jangan Remehkan Dehidrasi Pada Hewan Kesayangan.




TUGAS ILMU BEDAH KHUSUS
“TERAPI CAIRAN”

Disusun oleh :
Vincentius Agung             105130101111074
Rizy Ahmada                    105130101111075
Rizky Pamwidya A.          105130101111078
Santi Wulan D.                 105130101111079
Ninoek Candra DRS.        105130101111080

PKH UB Kelas C

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013


Senin, 02 September 2013

Kenapa Bulu (Rambut) Kucing Rontok?

Beberapa dari teman saya menanyakan,kenapa bulu kucing saya rontok? Dan berikut adalah jawaban yang bisa saya berikan sampai saat ini.

Pertama,Kucing yang dipelihara jarang di elus atau disisir. Hal ini terjadi normal bagi beberapa kucing khususnya rambut panjang. Rambut rontok yang dimaksud adalah rambut-rambut yang sudah seharusnya copot namun karena jarang disisir akhirnya tidak meninggalkan tubuh si kucing. Sebagaimana kebiasaan kucing untuk menjilat-jilat tubuhnya,namun pada beberapa jenis kucing terjadi kemalasan sehingga mereka tidak melakukannya sebaik yang dilakukan kucing kampung. Tipsnya,harus sering-sering menyisir dan mengelus kucing kesayangannya.

Kedua,karena stress. Stress yang saya maksud disini bukan hanya karena baru berpindah ke lokasi yang berbeda,namun bisa karena lingkungan yang tidak disukai kucing,misalnya kandang yang berdekatan dengan kandang anjing,ataupun keungkinan  lainnya. Kemudian stress akibat terlalu panas juga bisa terjadi,sehingga tips yang bisa diberikan adalah selalu sediakan minuman yang berlebih untuk hewan kesayangan anda.

Ketiga,rambut kucing rontok akibat hamil dan menyusui (menyapih). Keadaan ini memang alami dan biasanya juga terjadi di semua jenis hewan (mamalia). Karena dalam keadaan hamil maupun menyusui ada beberapa hormon yang kerjanya berubah. Sehingga dalam penyesuaian kondisi tubuh yag baru,terjadi beberapa perubahan dan salah satunya menyebabkan rambut kucing rontok.

Keempat,akibat pakan yang tidak cocok. Hal ini sering sekali menyebabkan beberapa abnormalitas pada kucing,seperti diare maupun rambut rontok. Yaitu pakan yang tidak sesuai dengan jenis kucing. Jadi,sebagai pemilik hewan harus tahu pakan yang cocok dan tidak dengan kucing. Kemudian dalam penggantian pakan juga harus telaten,tidak boleh langsung menukar (kaget) namun harus perlahan. Yaitu awal dicampur dengan pakan lama,baru nanti diperbanyak pakan yang baru.

Ok,itulah beberapa penyebab rambut kucing rontok,mudah-mudahan bermanfaat :)

Selasa, 04 Juni 2013

Laporan Laparotomy Kucing "Belle de La Cruize"

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU BEDAH UMUM VETERINER
LAPAROTOMI


oleh :
Habyb Palyoga 105130101111089
Adinda Darayani A. 105130101111090
Istiana Hidayati 105130101111091
Ulfa Septiana 105130101111093
Yusrina Suhartiningsih 105130101111094

PENDIDIKAN KEDOKTERAN HEWAN
PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013

BAB I
PENDAHULUAN


  • Judul Praktikum

Laparotomi pada Kucing


  • Tujuan Praktikum

Untuk menemukan letak anatomis atau orientasi  dari organ-organ viscera yang ada di dalam rongga abdomen secara langsung dan sekaligus dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa serta mengasah kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan bedah laparotomi.


  • Tinjauan Pustaka

Laparotomi berasal dari dua kata terpisah, yaitu laparo dan tomi. Laparo sendiri berati perut atau abdomen sedangkan tomi berarti penyayatan. Sehingga laparotomi dapat didefenisikan sebagai penyayatan pada dinding abdomen atau peritoneal. Istilah lain untuk laparotomi adalah celiotomi.( Fossum, 2002)
Laparotomi terdiri dari tiga jenis yaitu laparotomi flank, medianus dan paramedianus. Masing-masing jenis laparotomi ini dapat digunakan sesuai dengan fungsi, organ target yang akan dicapai, dan jenis hewan yang akan dioperasi. Umumnya pada hewan kecil laparotomi yang dilakukan adalah laparotomi medianus dengan daerah orientasi pada bagian abdominal ventral tepatnya di linea alba.

Organ-organ pada saluran pencernaan, saluran limfatik, saluran urogenital dan saluran reproduksi merupakan organ tubuh yang berada di ruang abdomen. Semua organ tersebut dapat ditemukan dengan menggunakan teknik operasi laparotomi.

Tindakan bedah biasa dilakukan untuk menangani kasus – kasus yang terjadi pada hewan kesayangan diantaranya dilakukan di daerah abdomen. Jenis-jenis tindakan bedah yang sering dilakukan diantaranya adalah laparotomi, cystotomi, histerektomi, ovariohisterektomi, kastrasi, caudektomi, enterektomi dan lain sebagainya.

Banyak kasus bedah yang ditangani dengan melakukan tindakan laparotomi, baik medianus, paramedianus anterior maupun posterior, serta laparotomi flank. Masing-masing posisi memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Pemilihan posisi penyayatan laparotomi ini didasarkan kepada organ target yang dituju. Hal ini untuk menegakkan diagnosa berbagai kasus yang terletak di rongga abdomen.

Tujuan laparotomi adalah untuk menemukan dan mengetahui keadaan organ visceral yang ada di dalam ruang abdominal secara langsung serta untuk menegakkan diagnosa.


BAB II
MATERI DAN METODOLOGI


  • Signalement
  • Anamnesis


  1. Nama : Belle de la Cruize
  2. Alamat : Perumahan bendungan sutami



  • Signalement


  1. Jenis Hewan : Kucing
  2. Jenis kelamin : betina
  3. Bangsa : DSH
  4. Berat badan : 3,3 kg
  5. Umur : 2  tahun
  6. Warna bulu : Two colors (black-white)
  7. Tanda khusus : ekor pendek



  • Alat dan bahan
    • Alat

Peralatan yang dipergunakan dalam praktikum kali ini adalah scalpel holder, gunting tajam – tajam, guntinhg tajam – tumpul, pinset anatomis dan cirughis, needle holder, towel clamp, blade, jarum, needle, drepe, tampon, benang operasi (silk untuk kulit dan chromic untuk organ dalam).

    • Bahan

Bahan-bahan yang digunakan antara lain premedikasi, yaitu Atropin. Bahan anastethikum, yaitu Xylazine dan Ketamine. Selain itu juga digunakan alkohol 70%, NaCl fisiologis, tampon, benang catgut, silk, dan antibiotik Ampiciline, dan juga Tolfenamic acid. Hypafix, kasa, kapas, grito.


  • Langkah Kerja Praktikum

Sterilisasi alat-alat bedah
Sterilisasi pada alat-alat bedah bertujuan untuk menghilangkan seluruh mikroba yang terdapat pada alat-alat bedah, agar jaringan yang steril.  Peralatan bedah yang dipakai dalam operasi antara lain empat buah towel clamp, dua buah pinset anatomis dan syrorgis, satu gagang scalpel dan blade untuk menyayat kulit, dua buah gunting untuk memotong jaringan atau bagian organ lainnya, empat  arteri clam untuk menghentikan pendarahan, dan satu buah needle holder.

Alat-alat bedah
Kain pembungkus dibuka di atas meja, kemudian wadah peralatan  diposisikan di bagian tengah
Sisi kain yang dekat dengan tubuh dilipat hingga menutupi peralatan dan ujung lainnya dilipat mendekati tubuh
Sisi bagian kanan dilipat, kemudian bagian kiri
Disiapkan kain wadah yang telah dibungkus dengan kain pembungkus pertama diposisikan kembali di bagian tengah pada sisi diagonal
Sisi bagian kanan dilipat, kemudian bagian kiri
Ujung lainnya dilipat mendekati tubuh dan diselipkan untuk memudahkan pada saat membuka
Sterilisasi dengan oven dengan suhu 100°C selama 60 menit.

Penanganan dan penyimpanan alat bedah
Peralatan dikeluarkan
Peralatan didinginkan dan dikeringkan dalam rak
Peralatan ditempatkan dibagian tengah
Setelah kering, disimpan dalam tempat yang tidak berair dan berdebu serta terlindung dari kontaminasi
Disimpan dalam ventilasi yang mempunyai sirkulasi udara yang baik dan terkena cahaya

Pembukaan alat bedah yang sudah steril
Kain dibuka dari bagian yang diselipkan
Peralatan diletakkan di atas meja

Operasi
Sebelum hewan dioperasi dilakukan pemeriksaan fisik telebih dahulu untuk mengetahui keadaan normal hewan. Sepuluh menit sebelum dioperasi, hewan diberikan premedikasi atropin dengan dosis mg/kgBB,diverikan dengan rute sub cutan.

Premedikasi
Atropin sulfat
Jumlah pemberian=(berat badan ×dosis aplikasi )/(kandungan sediaan)
Jumlah pemberian=( 3,3 kg ×0,04 mg/kgBB   )/(0,5 mg)=0,264 mL


Setelah itu hewan diberikan anastethikum atropin dan xylazine dengan rute intra muscular.

Anastetikum
Xylazine HCl
Jumlah pemberian=(berat badan ×dosis aplikasi )/(kandungan sediaan)
Jumlah pemberian=(3,3 kg ×2,2 mg/kgBB   )/(20 mg)=0,363 mL

Ketamin
Jumlah pemberian=(berat badan ×dosis aplikasi )/(kandungan sediaan)
Jumlah pemberian=(3,3 kg ×10 mg/kgBB   )/(100 mg)=0,33 mL

Operasi dilakukan setelah hewan teranasthesi. Bagian abdomen hewan dicukur kemudian didesinfeksi menggunakan alkohol 70% dan povidone iodine. Penyayatan dilakukan pada daerah medianus abdomen tepat di linea alba. Setelah itu dilakukan penyayatan pada kulit menggunakan blade, diikuti penyayatan linea alba, aponeurose m. obliquus abdominis internus et externus, dan peritoneum. Sayatan diperluas menggunakan gunting.

Post operasi
Selama post operasi dilakukan pemantauan kondisi hewan seperti temperatur, dan frekuensi nafas, nafsu makan, urinasi, defekasi serta kondisi luka.  Dilakukan pemasangan infuse pada kucing, dikarenakan selama operasi kucing mengalami dehidrasi dan perdarahan. Infuse tetap diberikan hingga + 3 jam post operasi karena kondisi kucing masih belum stabil. Antibiotik amoxicillin diberikan selama sehari  2 kali selama 5 hari  dengan dosis 2,64 mL secara per-oral. Selain itu diberikan Tolfenamic acid dengan dosis 0,165 mL secara subcutan.

Amoxicilin
Jumlah 1x pemberian=(berat badan ×dosis aplikasi )/(kandungan sediaan)
Jumlah 1x pemberian=(3,3kg ×20 mg/kgBB   )/(25 mg)=2,64 mL


Tolfenamic acid
Jumlah 1x pemberian=(berat badan ×dosis aplikasi )/(kandungan sediaan)
Jumlah 1x pemberian=(3,3kg ×4 mg/kgBB   )/(80 mg)=0,165 mL


BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Prosedur operasi
Operasi yang dilakukan operator pada saat praktikum adalah laparotomi medianus central, yaitu suatu tindakan penyayatan abdomen yang dilakukan 1 cm anterior umbilical sampai 3 cm posterior umbilical. Penyayatan abdomen yang dilakukan tepat dibagian tengah mempunyai maksud mempermudah eksplorasi organ-organ yang berada baik di sebelah anterior maupun posterior dari tempat penyayatan. Namun terjadi kesalahan lokasi penyayatan oleh kelompok kami, dikarenakan banyaknya pembuluh darah yang dijumpai pada lokasi penyayatan yang seharusnya. Sehingga lokasi penyayatan berada jauh dari daerah medianus central dari regio abdomen, yakni lokasi penyayatan terlalu bawah hingga mendekati regio caudal.
Sebelum dilakukan operasi, kucing diperiksa secara umum untuk mengetahui suhu, frekuensi jantung dan frekuensi nafasnya. Kemudian kucing diberi preanaesthesi dengan atropin sulfas untuk mencegah muntah saat operasi, karena atropin menyebabkan blokade reversibel  kerja kolinomimetik mempenaruhi motilitas usus, bronkodilatator, dan mencegah terjadinya hipersalivasi. (Katzung, 2001) Setelah diberikan preanaesthesi maka diberikan anaesthesi berupa ketamin 10% dan xylazine HCl 2%.
Setelah teranestesi, maka dilakukan penyayatan pada kulit, linea alba, aponeurose m. obliquus abdominis internus et externus, serta peritoneum pada abdomen, pada saat dilakukan penyayatan terjadi sedikit pendarahan hal ini dikarenakan lokasi penyayatan yang kurang tepat pendarahan dapat diatasi dengan membersihkan darah menggunakan tampon dan pada saat penguakan dilakukan, lapisan yang terlihat hanya sampai pada lapisan musculus sedangkan lapisan peritoneum tidak dapat terlihat. Asumsi dari kelompok kami hal ini terjadi dikarenakan lokasi penyayatan yang salah.
Selama proses pembedahan berlangsung muncul gerakan yang menandakan kucing mulai sadar dari anestesi, sehingga perlu adanya penambahan xylasin dengan dosis sebanyak seperempat dosis awal.
Selanjutnya kelompok kami tetap berusaha menemukan lapisan peritoneum. Namun lapisan tersebut tetap tidak dapat ditemukan. Hal ini terjadi kemungkinan akibat dari kesalahan posisi penyayatan. Oleh karena itu, perdarahan pada kucing terus terjadi dan mengakibatkan kucing harus segera dipasang infuse (Nacl 0,9 %). Akibat dari kondisi kucing yang terus menurun, diputuskan bahwa dilakukan penutupan jaringan dengan segera agar luka pada jaringan tidak semakin parah. Selama proses penutupan jaringan berlangsung kembali muncul tanda kucing mulai sadar dari anestesi, sehingga perlu diberikan kembali xylasin dengan dosis seperempat dari dosis awal. Penutupan jahitan dilakukan kembali untuk mencegah kerusakan jaringan.proses penutupan jaringan yang terlalu lama menyebabkan kucing cepat pulih dari anestesi sehingga pemberian xylasin di berikan sebanyak  7 kali hingga proses penutupan jaringan selesai. Penjahitan dilakukan secara hati-hati, lapisan musculus dijahit kuat dengan jenis jahitan sederhana yakni pola jahitan simple interrupted suture. Benang yang digunakan adalah benang cat gut 3/0 agar dapat diserap oleh tubuh dan jarum berpenampang bulat untuk jaringan yang lunak. Sedangkan lapisan subkutan atau kulit dijahit dengan pola jahitan menerus yakni pola jahitan lock and stitch, menggunakan benang silk dan jarum berpenampang segitiga untuk mencegah jahitan terbuka. Pemberian antibiotik berupa Penicilin tabur dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi pada luka jahitan. Terakhir didaerah bekas jahitan diberi betadine. Pemberian antiseptik ini bertujuan untuk mencegah infeksi dan mempercepat pengeringan luka. Bekas jahitan dibalut dengan menggunakan kasa yang telah diberi betadine untuk kemudian ditempel dengan menggunakan perekat hypafix dan untuk menghindari bekas jahitan terbuka akibat dari gigitan atau gerakan kucing maka dilakukan pemasangan grito.

3.2 Perawatan Post Operasi dan Manajemen kesembuhan luka
Pengamatan post operasi menunjukan proses penyembuhan luka jahitan mulai membaik. Pada hari ke-7 post operasi luka sudah mulai mengering. Namun pada hari ke-9 jahitan pada kucing ditemukan sedikit membuka dan ada nanah pada daerah jahitam. Dilakukan pemberian bioplacenton pada daerah jahitan untuk mempercepat proses kesembuhan luka, tidak dipasangi grito pada kucing dan kucing dipasangi colar agar tidak menjilat-jilat daerah jahitan. Pada hari ke-11 luka pada daerah jahitan sudah menutup dan mengering. Sampai hari ke-13, jahitan pada kucing belum dibuka karena kami ingin memastikan luka benar-benar kering dan menutup. Setelah luka benar-benar kering dan menutup, baru dilakukan pembukaan jahitan.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Laparotomi adalah sebuah tindakan medis yang bertujuan untuk menemukan dan mengetahui keadaan organ visceral yang ada di dalam ruang abdominal secara langsung serta untuk menegakkan diagnosa. Pada praktikum ini yang dilakukan oleh kelompok kami adalah laparotomi medianus central, yaitu suatu tindakan penyayatan abdomen yang dilakukan 1 cm anterior umbilical sampai 3 cm posterior umbilical.
Sebelum dilakukan laparotomi, dilakukan beberapa persiapan diantaranya persiapan operator, alat dan bahan instrumen bedah, pasien, serta tempat untuk laparotomi. Persiapan ini dilakukan bertujuan untuk mempermudah jalannya proses laparotomi. Selain itu dilakukan sterilisasi alat yang bertujuan agar tidak terjadi infeksi mikroba pada pasien dan untuk membantu proses penyembuhan pada pasien.
Setelah dilakukan laparotomi pada pasien (kucing) dilakukan perawatan pasca operasi pada pasien untuk mempercepat proses penyembuhan luka jahitan pada pasien dan juga untuk mengembalikan kondisi pasien ke kondisi awal.

4.2 Saran
Praktikum sudah berjalan dengan lancar. Mungkin pada praktikum selanjutnya materi praktikum bedah dapat ditambah. Misalnya dengan melakukan ovarihisterectomi atau kastrasi. Sehingga mahasiswa dapat lebih memahami ilmu bedah dan lebih melatih skill dari mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA
Cuningham, JG. 2002. Textbook of Veterinary Physiology. 3 rd edition. W. B saunders Company : USA.
Darmojono, H. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Veteriner (Hewan Kecil) 1. Jakarta: Pustaka Populer Obor.
Darmojono, H. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Veteriner (Hewan Kecil) 2. Jakarta: Pustaka Populer Obor.
Fossum, TW. 2002.Small Animal Surgery. 2nd edition.China: Mosby.
Himawan Sutisna. 1984. Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI Brunner, Sudart. Textbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Lippincott Company.
Katzung, BG. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik. Salemba Medika : Jakarta.
Soeparman dkk. 1987. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. FKUI.
Suriadi. 2007. Manajemen luka. STIKEP Muhammadiyah. Pontianak.
Tawi, Mirzal. 2008. Proses Penyembuhan Luka. Diakses pada tanggal 25 Mei 2013 melalui http://syehaceh.wordpress.com/proses-penyembuhan-luka.